under-construction

||klik LINK INI untuk membaca SEMUA tulisan||

Minggu, 10 Januari 2010

UNDER CONTRUCTION
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
_______________________
[]semuanya harap saling mendoakan agar jalannya ujian kami lancar dan diberi hasil yang memuaskan[]
-18 Januari / 1 Februari-


wish u all d'best :D:)

Read more...

Dari 'Kabinet Djuanda' hingga 'Cicak vs Buaya'


[Photo]Pemberitaan korupsi akhir-akhir ini menjadi hangat di berbagai media massa Indonesia, tak luput juga ranah pemerintahan Kabinet Bersatu jilid II dan segenap kasus tambahan lainnya –dua kali penangkapan petinggi KPK- hingga merembet menjadi icon 'cicak vs buaya'. Nahas bagi Indonesia, negara kaya yang mempunyai Sumber Daya Alam dan Manusia yang begitu berharga harus menjadi negara miskin tak berdaya karena ulah para koruptor yang memonopoli. Tak ayal jika di tahun 2005 indonesia mendapat ranking pertama NEGARA TERKORUP versi Pasific Economic and Risk Consultancy.


Sebenarnya wacana komite pemberantasan tindak korupsi sudah digelar jauh hari ketika masa-masa pemerintahan pra-presidensial di Orde Lama, ketika Indonesia diperintah oleh Kabinet Djuanda dibentuk juga badan pemberantasan korupsi yang disebut PARAN (Panitia Retooling Aparatur Negara) dipimpin oleh A. H. Nasution. Di tahun 1963 A. H. Nasution ditunjuk lagi untuk menjadi ketua di komite yang sama di pemberantasan korupsi. Namun kali ini dengan nama yang berbeda; Operasi Budi.

Era Orde Lama yang dipandang tidak sukses dalam memberangus korupsi dijadikan oleh Presiden Suharto sebagai moment yang tepat untuk mendongkrak Kabinet Gotong Royong yang masih berumur muda. Maka dibentuklah TPK (Tim Pemberantasan Korupsi), badan pertama yang ia bentuk mengalami kegagalan hingga akhirnya beralih menjadi Komite Empat, demikian juga nasib komite ini, gagal lagi. Hingga akhirnya terbentuklah Opstib (Operasi Tertib) sebagai opsi pemberantas korupsi terakhir. Namun sayang, semakin menguatnya kedudukan para koruptor di singgasana pemerintahan membuat ketiga badan bentukan Orde baru juga mengalami kegagalan.

Read more...

Meneladani Tuhan

||klik LINK INI untuk membaca SEMUA tulisan||

Minggu, 25 Oktober 2009

Ket: Rubrik renungan Sinar M.U edisi 50
______________________________

Dalam 24 jam sehari, terdapat waktu yang istimewa yaitu, sepertiga malam terakhir. Setiap tujuh hari seminggu, terdapat hari yang istimewa, yaitu hari Jumat. Dan di antara 12 bulan setahun, terdapat bulan yang paling diistimewakan yaitu bulan suci Ramadhan. Bagaimana Allah Swt. menjadikan Ramadhan begitu mulia dapat kita simak ketika Salman al-Farisi ra. berkata:
“Rasulullah Saw. berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah Swt. menjadikan puasanya wajib dan bangun malamnya sunnah, siapa yang mendekatkan dirinya dengan kebaikan maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain, barang siapa yang melaksanakan kewajiban maka seperti melaksanakan 70 kebaikan di bulan yang lain.”
Ramadhan adalah bulan ketika seluruh rahmat Allah Swt. dicurahkan kepada hamba-Nya, hingga sifat-Nya sebagai Maha Pemurah pun juga coba ia wariskan kepada manusia di bulan tersebut. Manusia memang tak akan pernah dan bahkan memang mustahil menjadi Tuhan. Tapi sebenarnya, manusia dari awal penciptaannya sudah ‘diciprati’ sifat-Nya dalam kadar terbatas. Karena itu ketika Imam Ghazali menulis tentang asmaul husna, beliau menambahkan catatan bagaimana cara manusia meniru setiap sifat-Nya. Tentu saja sekali lagi, tetap dalam koridor keterbatasan manusia.

Oleh sebab itu, kalau kita mau mengamati ritual tahunan kita di bulan Ramadhan, kita akan sadar, barangkali Allah ingin berbagi tentang sifat welas asih-nya di bulan ini untuk manusia, berbagi sifat ketuhanan yang luhur. Bahkan kalau kita jeli, tidak hanya ke-Maha Pemurahan-Nya yang ia ajarkan tetapi lebih dari itu.
Yang paling kita rasakan ketika berpuasa adalah menahan lapar dan dahaga. Awam yang kita ketahui adalah, bahwa kita diajarkan untuk saling berbagi rasa dengan orang-orang yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka. Momen seperti inilah yang ingin diajarkan oleh Allah kepada manusia.

Read more...

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP