'Sad Ending' dan Kritik Sosial Pramodya

||klik LINK INI untuk membaca SEMUA tulisan||

Minggu, 31 Mei 2009


Kisah di Bumi itu klise, diawali dengan jatuh cintanya Minkey kepada seorang Indo, Annelis. Sudah diuntung bagi Minkey, seorang pribumi mencinta orang Indo. Pribumi saat itu adalah strata paling tidak dianggap dalam wilayah apa pun: kepemerintahan, kebebasan, kekeluargaan dan agama -walaupun tidak ada 'agama' di Bumi Manusia versy Pramudya-. Sikap Annelis sebagai orang Indo memang lebih suka menjadi seorang pribumi seperti ibunya.

Dengan percintaan mereka berdua, Minkey bertemu dengan karakter yang sama -kebebasan- yaitu Nyai Ontosaroh. Kedua-duanya saling berbagi dengan kebebasan yang sedari dulu telah dicuri oleh orang terdekat mereka berdua. Nyai menyutujui hubungan mereka berdua juga karena balas dendam atas nama kebebasan cintanya yang diperjualbelikan, Nyai tidak ingin kebabasan cinta anaknya terkekang sepertinya dulu.

Permasalahan pertama yang ditawarkan di panggung fiksi itu adalah keluarga Minkey. Ningratisme yang berlebihan sealu menghantui diri Minkey, dia selalu menyembunyikan garis keturunan dari bapaknya yang Gubernur itu. Unggah-ungguh yang berlebihan terhadap ayahnya, selalu mengalah dari kakaknya dan seabrek kejawen yang berlebihan lainnya membuatnya tidak nyaman berada di tengah keluarga tersebut, hijrahlah dia di tempat lain, Wonokromo. Untunglah seorang Ibu masih diingatnya dalam keluarga itu, sebagai satu-satunya wanita yang mewakili kasih sayang dalam hidup di keluarga.

……….
…………….
…………………
Lambat laun, Minkey yang menjelma menjadi seorang intelek dan disegani oleh pembesar-pembesar pemerintah membuat amarah ayahnya yang selalu menganggap Minkey sebagai anak durhaka terhapus. Karena kepiawainnya dengan bahasa Belanda, tamu ayahnya merasa terpuaskan dan bangga akan adanya pribumi yang berbahasa Belanda lancar, tentunya dibarengi dengan keintelektualan Minkey sebagai koresponden warta harian.

Yang menarik dari ending cerita tersebut adalah kembalinya permisalan dari karakter masing-masing tokoh yang saya sebutkan dengan pengalaman serupa, yaitu kekecewaan dan kekalahan.

Nyai Ontosaroh dan Minkey masing-masing dari mereka mempunyai kekecewaan tak terhingga kepada orang tua. Orang tua Nyai menjual dirinya kepada orang Eropa, orang tua Minkey terlalu menjadikannya sebagai anak bawang dalam keluarga. Kedua-duanya merasa kebebasan mereka tergadai entah kemana.

Kemurkaan mereka kepada orang tua mungkin yang menjadikan ending dari cerita ini menjadi sedih, karena seorang idola dalam cerita naluri kasih sayang dan keindahan yang ia miliki terampas dengan sangat menyakitkan, Annelis harus meninggalkan mereka berdua, meninggalkan kekasihnya, Minkey dan juga harus meninggalkan ibunya, si Nyai.

Annelis akhirnya harus meninggalkan mereka dan meninggalkan kampung halaman tercinta Indonesia, dengan keterpaksaan dan akhirnya dengan kerelaan.

Kok bisa…?

Keluarga dari pihak Ayah yang masih hidup di Belanda mempunyai rencana busuk untuk menghancurkan keluarga Nyai, Indonesia yang masih dalam masa penjajahan dalam hukum negara yang sangat teramat lemah tidak bisa mempertahankan kepemilikan aset yang selama ini dibangun oleh Nyai dan bahkan anak kandungnya sendiri tidak bisa dimilikinya secara sah karena label ke-Nyaiannya dan kemanusiaanya tidak mempunyai nilai sepeser pun di depan hukum Belanda.

Gimana sikap Annelis…?

Berawal dari karakter Annelis yang sangat lembut, berbeda dengan dua orang yang disayanginya yang memiliki ketahanan mental luar biasa. Rasa sayang yang berlebihan dibarengi dengan ketidak siapan untuk kehilangan membuat Annelis menjadi seorang yang kehilangan segalanya, segalanya, raganya pun sudah sedari dulu ketika kecelakaan yang tidak lain oleh abangnya sendiri. Dan hatinya pun sekarang harus tercabik karena harus meninggalkan kedua orang yang disayangnya.

Bukan tanpa usaha bagi mereka yang kehilangan, namun ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi struktur hukum penjajah adalah suatu hal yang tidak terelakkan pun ketika mereka tidak melawan atau melawan, hasilnya tetap kekalahan. Dan sebaik-baik perlawanan memang sudah diusahakan, ya sebaik-baik perlawanan seperti kalimat-kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nyai Ontosaroh, dan lagi, sebaik-baik perlawanan untuk sebuah kekalahan.

Annelis memboyong semua pakaiannya, karena beberapa orang yang ditugaskan untuk menjemputnya sudah menunggu. Kelemahan untuk berpisah, sebuah awal kebencian setelah kehilangan rasa sayang dari yang dicintainya. Dia mengekspresikan kekecewaan terhadap mereka yang tidak sanggup menyelamatkannya dengan keangkuhan yang ia lukiskan dengan benih-benih keegoisan. Tak perduli seberapa jauh Minkey dan Nyai Ontosaroh melawan hukum yang hina, Annelis berniat untuk tidak kembali ke Indonesia, sekaligus untuk tidak bertemu dengan keduanya. Tas yang dibawa oleh Mamanya ketika berjanji untuk tidak kembali lagi ke rumah orangtuanya, dia bawa sebagai lambang untuk tidak kembalinya sebagaimana Mamanya melakukannya terhadap orangtuanya.

Dan, selamat tinggal Indonesia, negeri dimana aku tidak mendapatkan kekuatan untuk mencintai mereka, negeri dimana aku tidak mendapatkan keamanan sekedar untuk menikmati jerih payahnya, Annelis membatin nelangsa. Tanpa membalikkan muka putri itu menaiki kapal Belanda, layar pun segera berkembang dan kapal yang mengangkutnya bertolak menuju ke negeri penjajah ibunya.

Read more...

Facebook, Yahudi dan Israel :-??

||klik LINK INI untuk membaca SEMUA tulisan||

Senin, 25 Mei 2009

Tentang fatwa, kok ada isu kayak gini kembali digulirkan, gimana sih. Kalau emang mau berfatwa tentang haram, makruh, mubah dan halalnya jejaring sosial kenapa tidak sedari dulu ketika ada FS, MP, Blog, YM, hp bahkan, dan lainnya. Dimana jejaring sosial yang dicontohkan diatas juga tidak menutup kemungkinan menyimpan mudhorat yang sama dengan apa yang mereka khawatirkan; khalwat via dunia maya, menunda waktu prioritas untuk ibadah, bermalas-malasan di depan komputer dan seabreg mudhorot lainnya yang dijadikan alasan digulirkannya isu tentang hukum ber-FB.

Prinsipnya simpel, segala sesuatu kalau berlebihan emang diharamkan, tanpa menafikan fasilitas maya yang disandang oleh jejaring sosial tersebut diatas: silaturahim, sharing status (baca: curhat), tuker ide kayak gini :p dll.
_____________________________________

Stop, sampai sini saja, karena emang yang ingin im bahas bukan masalah fatwa, tetapi sisi lain FB yang, menurut im juga patut diselediki, hehe sebagai langkah awal. Bermula dari... isu, yops alias kabar burung/ manuk/ thair/ bird...$#T%%#^.... bahwa FB ini katanya punya wong Yahudi/ Jews.

1.
Pernah kebayang ga kawan kenapa PENGISTILAHAN yang dipakai oleh admin FB ini memakai kata "Dinding/ Wall" sebagai tempat kita nulis-nulis komen dan status.... Dan kalau im inget isu diatas rasa-rasanya ada yang ngganjel di otak (bukan tumor, bukan juga abis kejedot). Si Jews soale punya kaitan erat dengan istilah diatas; dinding/ wall, tepatnya DINDING Ratapan/ Wailing WALL/ Western WALL.

Konon kata-nya (dhomir 'nya' kembali ke; wikipedia dan wesite lain yg sempet kebuka...:p) Dinding Ratapan adalah tempat penting bagi kaum Yahudi dan Islam, dikatakan demikian karena dinding tersebut disebutkan sebagai sisa peninggalan bangunan yang dibangun di era Raja Salomo atau, menurut kita; Nabi Sulaiman.

Oleh orang Yahudi, dinding ini dijadikan sebagai tempat meratapi dosa-dosa mereka, itu kenapa mereka menamakannya dengan Dinding Ratapan, juga mereka menyisipkan corat-coret yang berisi doa dan ratapan. Orang Yahudi Ortodoks membagi blok tersebut menjadi dua tempat untuk laki-laki dan perempuan ketika berdoa, karena mereka meyakini bahwa tidak boleh berdoa bersama-sama di tempat sama antara laki dan perempuan (ga boleh ikhtilath gitu kali yah).

Keyakinan lain bagi mereka yaitu tidak hancurnya tembok tersebut karena disanalah bersemayamnya Tuhan. Walaupun berkali-kali mengalami penguasaan dan penghancuran, khusunya penyerbuan Romawi di tahun 70 Masehi, dan yang tersisa pun kini tinggal 60 meter dari sebelumnya 480 meter. Penguasaan silih berganti atas wilayah ini dan sekitarnya yang tercatat antara lain; Spanyol, Turki dan di era kita ini tentunya antara negara Arab Mesir -Jordnia - Palestina - Israel. Walaupun sejak perang 6 hari kepenguasaan tersebut dimiliki oleh Israel, tapi secara kepengurusan Palestina/ Yordania memegangnya (halah, sawa' pakot jalik ihna majluum)

Nah bagi orang Muslim, WALL ini konon katanya juga merupakan tempat bertolaknya Nabi Muhammad Saw. ketika mengadakan safari indah mi'raj ke langit sekaligus sebagai pondasi bangunan Masjidil Aqsa dan Qubbah Shakhra.

Dinding ratapan=....#$%$^..... status FB.....%$^......komen...... curhat........catatan..... R U confused...... cuman pengen mecut otak saja...hwahaha.

2.
Lagi, sekarang masalah warna. Warna apa yang didominasi oleh si FB KITA ini...? bagi yang masih muda dan ngefuns sama juz gazar depan darasah pasti akan bilang; warna dominasi FB adalah BIRU dan PUTIH (bukan BIRU dan ITEM lho yah, klw itu mah Inter bangee.. ). Dan kembali lagi otak im kada ngganjel karena jadi inget bendera yang klebet-klebet di pemukiman Palestina yang terjajah oleh ISRAEL/ Yahudi. Ya, dominasi warna FB kita persis dengan warna bendera Israel, garis lurus atas bawah dan logo dengan warna BIRU, dan sisanya PUTIH.

3.
Contoh lain, baru saja kepikiran googling, eh dapat ini:
http://www.kematian.biz/article/teknologi/facebook-takluk-pada-yahudi.html

________________________________________

Nomor satu dan dua secara singkatnya adalah paparan tentang demonstrasi akan eksistensi suatu kelompok dengan logo - simbol - jargon ataupun pengistilahan-pengistilahan khas dengan kelompok itu. Memang ada kebanggaan tersendiri bila sekelompok tersebut dengan leluasanya mendominasi masyarakat awam dengan kode-kode semacam itu, seolah-olah eksistensinya juga ikut mewarnai lingkungan disekitarnya. Kayak kita laah, punya baju dibordir dengan tulisan GLORIUS kek/ BLITZA kek atau WALAPA680 :P.


#_^:
Jadi heran nih, ujian2 kok malah banyak hal2 mletik di kepala yah...

Read more...

Pramoedya dan Watak Bumi Manusia

||klik LINK INI untuk membaca SEMUA tulisan||

Selasa, 12 Mei 2009

Pramodya Ananta Toer, penulis tetralogi novel Pembangun Nsionalisme. Mengkopi tajuk setiap novel yang sedang marak di Indonesia, 'Pembangun Jiwa', 'Pembangun Mental' serta deretan label lain sebagai pewarna novel terebut yang dicoret oleh penulisnya dan, kali ini kita bisa menyebut Bumi Manusia-nya Pramudya dengan gelar di atas, novel Pembangun Nasionalisme.

Seorang novelis seakan menjelma sebagai tuhan bagi novelnya. Dia pencipta segala di dalamnya. Pengarang tersebut mengarang manusia sebagai subjek pengelana dalam bumi yang ia ciptakan sendiri, semuanya. Ia mulai dengan muqadimah, masalah, solusi dan ia akhiri dengan penutup. Meskipun demikian, tidak jarang sebuah bumi dan alam fiksi tersebut ia biarkan mengalir tanpa ujung, tidak pula mengarah pada muara penyelesaian, ia meninggalkan aliran sungai itu mengalir entah kemana, seakan membiarkan kita agar membuat jalan air tersebut dengan sendirinyamenuju muara laut, tanpa ia bimbing, dan hanya kita sendiri.

Yang akan menjadi tuhan di Bumi Manusia kali ini adalah dia, Pramudya Ananta Toer . Hidup di zaman ketika tanah kelahirannya memasuki era kebangkitan dari penjajahan dan belum merdeka, transisi tepatnya. Seperti zaman dimana Negeri Bocoran Surga –mengutip sebutan Emha untuk Indonesia- sedang dimasuki iblis yang sedang mencoba menjerumuskan Adam dan Hawa ke lubang yang nista, pengkhianatan dan hukuman. Turun dari surga menuju bumi, sebagai awal perjalanan yang sangat panjang menuju rahmat Tuhan, kesempurnaan dan kekekalan.

Bumi Manusia, sebuah judul yang cukup mewakili segalanya, bumi dan manusia. Manusia dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya, dan bumi yang mewakili alam ciptaan-Nya sebagai penikmat panggung sandiwara.

Manusia ciptaan Pramodya tersebut antara lain: Minke, Nyai Ontosaroh, Annelise, Bapak, Ibu dan kakak Minke, Orang tua Nyai Ontosaroh, Suami dan anak lelaki Nyai, Robert Surhof temen Minke, Dasram si algojo, Tuan Telinga, Jean Mears dan lain-lain. Dan yang menjadi artis diantara manusia ciptaan tersebut ialah Minkey, Nyai dan Annelis.

Dimensi cerita di Bumi Indonesia sedang mengalami masa transisi dengan sisa-sisa penjajahan dari kolonial Belanda. Hubungan ningrat penguasa-penguasa kecil terlihat ketika para Bupati dan ningrat kepemerintahan lainnya bisa eksis walaupun kekuatan tersebut masih mengekor dari pemerintah boneka Hindia Belanda.

Bumi Manusia pun bercerita tentang belahan bumi lainnya tentang adanya strata darah sosial. Eropa, Indo dan Pribumi. Eropa adalah keluarga kolonial Belanda yang saking enak dan lamanya menjajah Hindia-Belanda mereka berketurunan di Bumi Manusia belahan Hindia-Belanda. Indo digambarkan seperti Annelis yang berorangtuakan ayah berdarah Eropa dan Ibu berdarah Pribumi, campuran. Dan Pribumi, tidak lain adalah Minkey, Nyai dan bagi siapa saja yang berketurunan asli Hindia-Belanda.

Penokohan karakter yang tegas dalam cerita tersebut seolah menggambarkan diri pencipta manusia dalam dunia fiksi Bumi Manusianya Pramudya. Minkey dan Nyai Ontosaroh, mereka berdua yang mewakili karkater keras, tegas dan tidak pernah menyerah. Minkey yang berorangtuakan ningrat, bapaknya seorang gubernur, sangat terhimpit dengan kultur budaya Jawa yang menjadikan bawahan selaiknya hamba sahaya, pun itu anaknya. Kungkungan kultur sosial suku tersebut seolah mengekang dirinya yang ingin bebas.

Penghambaan yang berlebihan dalam mu'amalah membuat diri Minkey berontak seberontak-berontaknya, tidak ada ruang maaf bagi siapa saja yang menjadikannya seperti itu. Keluarga ningrat yang terlalu menutup diri dari sifat kritis dari seorang yang berumur lebih muda, bagi mereka yang muda yang selalu menjadi kalahan, tidak ada dialog serta tanya, dalam keluarga itu hanya dogma. Beruntung Minkey masih mempunyai seorang Ibu yang meyayanginya.

Namun begitu, ketika ia dihadapkan pada sosok Nyai Ontosaroh, seorang wanita, Minkey masih tercengang dengan watak wanita pribumi tersebut. Dendam tak ketulungan ala manusia versi Pramudya begitu kental dibawah karakter seorang Nyai. Nyai yang tempo dulu sebagai lambang strata sosial yang rendah, gundik para kolonial, menikah tanpa keresmian agama, pemerintah dan hingga, tanpa izin dari pihak yang dinikahkan.

Jual beli yang dirasakan oleh Nyai antara Ayahnya yang gila kuasa di sebuah pabrik, Ibu yang tak mempunyai daya dihadapan Ayahnya serta seorang kolonial yang kelak menjadi isitri dari Nyai. Itu semua cukup menjadi pemicu kenapa watak keras Nyai terhadap keluarganya sendiri seolah berhadapan dengan musuh. Tidak ada rasa sesal bagi Nyai memusuhi keluarganya sendiri hingga, orangtuanya mati, sebagaimana orangtuanya juga mengabaikan kebebasan dirinya yang diperlakukan sebagai barang mati dagangan.

Annelis, putri itu…

===============

Read more...

PMIK dan Cerita Buku Mereka


Suasana Bookfair

Semilir angin di taman depan hall 6 memang terasa dingin, tapi kebetulan hari itu cerah-cerah saja dan matahari memberanikan muncul berbagi sinar kehangatan, sehingga hawa yang tadinya dingin karena semilir angin menjadi hangat dan sejuk, paling tidak untuk 2 jam di siang itu, karena bila sore beranjak hawa dingin lebih berkuasa.

Taman itu juga penuh dengan orang-orang yang beristirahat, tidak disangsikan memang dengan kriteria book fair yang International itu, banyak warga luar Mesir terlihat disini, mereka lelah dengan banyaknya stand buku di hall International Book-fair di Kairo, atau mereka lebih sering mengistilahkan dengan Ma'radh. Betapa capeknya untuk bisa sekedar berjalan-jalan diseluruh toko buku yang berada di sana. Hitung saja, ada berapa belas hall dengan setiap masing-masing hall diisi dengan puluhan stand.

Blok yang kami tempati di taman itu sejenak menjadi perhatian para hunter buku. Mmereka menganggap aneh, kumpul-kumpul pelajar asing di ma'radh, bukannya belanja buku, eh malah kongkow di taman, mungkin pikir mereka begitu. Namun ada juga yang segan melihat perkumpulan kami, kumpulan pelajar asing seolah-olah terlihat berdiskusi, atau paling tidak mengadakan kegiatan ilmiah ala civitas akademika perkuliahan, dan dengan bangga usai perkumpulan mereka ngobrol dengan kami.

Hari itu adalah hari dimana kami staff PMIK mengadakan kumpul perdana untuk memulai aktivitas baru setelah ujian term I. Sekaligus mengawali perkumpulan, kami juga ingin menginjakkan kaki pertama di book-fair tahun ini, kami katakan pertama, karena memang tidak cukup satu atau dua kali untuk bisa memuaskan nafsu berbelanja buku, itu bagi mereka yang ada kelebihan budget, untuk yang minim budget bisa melihat buku-buku pun bisa menambah wawasan tersendiri.

Kumpul perdana staff PMIK dihadiri oleh teman-teman staff dan dewan pembimbing: Kak Nidhol, Umar, Sulthon, Basyir, Ardi, Versky Mursalin, Riyan, Muwafiq, Hakim, dan Im. Sedangkan akhwatnya ada Kak Affi, Rina, Arma, Khalis, Mazra'ah, Litdya dan Benazir.

Sebagai item pertama yaitu acara ceremonial sederhana, dimoderatori oleh Kak Ardi sebagai kepala perpustakaan, dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Quran oleh Kak Basyir.

Cerita Kami Tentang Buku

Yang menarik dari acara kongkow bareng ini adalah apa yang diidekan oleh Kak Nidhol, senior PMIK yang pengalaman tentang ke-buku-an tidak diragukan lagi. Dari menjadi penanggungjawab perwakilan penerjemahan penerbit Aqwam, sekaligus penerjemah aktif, seabrek pengalaman di PMIK sendiri, dan bahkan di akhir acara ketika bagian dia bercerita tentang ide yang ia kemukakan untuk temen-temen, kita sama-sama mengetahui bahwa ayahnya ternyata juga seorang penulis di Indonesia, kesimpulan al waladu sirru abiihi pun bisa kita perjelas dengan posisinya sebagai anak penulis juga.

Ide yang ia ajukan buat temen-temen tak lain adalah bercerita. Cerita apakah itu? tentunya bukan cerita konyol hari ini yang telah im lakukan, atau cerita tentang kisah kasih di sekolah. Cerita yang baru kali ini im temukan di acara kongkow bareng temen-temen staff perpustakaan: cerita tentang buku yang pertama kita baca, buku yang paling berkesan dan buku yang pertama kali kita beli dengan uang kita sendiri.

Sep, macam-macam memang kesan yang diceritakan oleh temen-temen. Ada yang bercerita tentang buku Tenggelamnya Kapal Vanderwijk dan bahkan beberapa temen akhwat dengan lugunya mengakui majalah Bobo sebagai buku pertama yang mewarnai bacaan mereka.

Tibalah saat itu giliranku. Tentang buku pertama yang dibaca, buku yang pertama kali dibeli dengan uang sendiri dan, buku yang paling berkesan.

Kalau buku pertama yang im baca... so pasti buku yang kalimat-kalimatnya "Ini Ibu Budi.... Pergi Ke Pasar... Menolong Tetangga bla bla bla...". Temen-temen ga bisa nyembunyiin kejengkelan mereka mendengar jawaban ngaco itu. Hhe... habisnya si pemilik ide ga ngejelasin buku pertama yang gimana yang kita baca, yo wis, it's not my problem.

Tapi ok lah, im ngalah.

Kalau membincang buku yang pertama banget im baca adalah sebuah buku sejarah. Bukunya bersampul hijau dengan cover model jadul. Im temukan buku tersebut di matean, sebuah istilah bagi gudang rumah mbah terletak di sebelah etan/ timur, makanya disebut matean. Itu disaat rumah mbah masih periode pertama dan belum direnovasi secara denah dan tembok semen.

Buku itu berjudul "Sejarah Nabi Muhammad". Untuk ukuran SD dan, im kira belum sampai kelas 4, im sudah membaca buku yang begituan. Alasan ilmiahnya hanya satu, kebetulan. Kebetulan saja pagi hari saat itu im tidak sekolah, im buka gudang mbah dan ternyata disono im temukan buku bersampul dengan warna hijau yang menceritakan tentang sejarah Nabi Muhammad.

'Tibalah di Tahun Kesedihan', itulah jawaban bagi orang yang mungkin akan bertanya 'kok bisa ingat Is...?'. Ya... im sendiri ga tau persis, hanya saja, ketika imajinasi im mundur untuk sekian ratusan tahun lamanya dan bertemu goresan sejarah seperti itu, im menangis. Tumben-tumbennya im menangis baca buku, untuk ukuran umur seperti itu dan untuk buku yang im baca. Syukur lah, air mata kekanak-kanakan yang sampai sekarang masih im ingat adalah hal seperti itu, bukan tangisan mengiba karena mainan yang im tidak punya, Tahun Kesedihan.

Item kedua ialah cerita tentang buku yang pertama-tama kita beli dengan uang kita sendiri. Ndak tau juga yang dimaksud sendiri itu yang bagaimana, sampai sekarang pun seluruh kebutuhan im dibeasiswain dari orang tua im sendiri dan, ketika di Kairo ini uang satu-satunya yang im bersandar juga dari minhah WAMY. Ok lah, anggap aja yang dimaui moderator adalah uang yang entah dari mana yang penting ketika di tangan kita menjadi halal karena sudah menjadi milik kita sendiri.

Im berangkat dari ketika di pondok ketika ada lebih uang jajan dan im tabung sehingga sah saja deh kalau im nisbahkan uang tabungan im sebagai uang im sendiri :P. Ketika menginjak kelas 4, marak dan sering diadakan shoping buku, entah dari bazar kecil-kecilan sampai bookfair yang diadakan pondok di GOR Gontor hampir pertahun. Dari bazar dan bookfair itulah dunia im sedikit lebih terbuka tentang wacana keilmuan. Sedikit mengingat judul buku yang pernah im lirik (walaupun sebagian besarnya ga masuk daftar katalog perpus pribadiku ).

Dan im pun memutuskan memilih buku Tafsir Mimpi sebagai buku yang im beli pertama dari uang im, dari sekian buku yang im beli maka yang im ingat adalah buku tersebut. Apa pasal? Mimpi yang mana dikategorikan sebagai alam goib ternyata bisa menjadi gambaran hidup dan kejadian di alam nyata. Dan memang benar, mimpi atau pun alam goib keseluruhan, sedikit demi sedikit, sebagiannya lambat laun akan bisa dipetakan dan diilmukan secara teori nyata. Bahkan im sendiri pernah mencoba kamus mimpi tersebut ketika mendapatkan anggota yang bercerita tentang mimpi anehnya. Duh, gini aja ya, takut kebanyakan ngebahas alam goib nanti :D.

Sampailah pada item terakhir dari cerita buku yang paling berkesan sampai sekarang. Maka ketika itu im memilih untuk bercerita tentang buku yang im dapat ketika di ITQAN (singkatan dari Ilmy Tarbawy Qurani), instansi im ikuti bergerak di bidang perbengkelan tulis menulis, kajian dan diskusi. Buku itu berjudul "Terapi Sholat Tahajud" dan "Misteri Sholat Subuh". Kedua-duanya menarik karena im yakin kontain dan isi yang dibahas dalam kedua buku ini sangat menarik dan im sedikit punya perkiraan ketika itu bahwa, kedua buku itu bakalan best seller. Eh ternyata benar sekian minggu kemudian agen Ulul Albab dari Solo yang mendistribusikan buku tersebut mendatangkan buku itu dengan label baru di kedua covernya "Best Seller". Dari situ ada kepercayaan diri bahwa im udah bisa milih buku >:D<. Eits, tambah lagi ternyata yang menerjemahkan buku Mister Sholat Subuh tidak lain adalah Ustadz Munaji, senior di Gontor yang sekarang juga menjadi senior mahasiswa di Mesir.

Read more...

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP