Meneladani Tuhan

||klik LINK INI untuk membaca SEMUA tulisan||

Minggu, 25 Oktober 2009

Ket: Rubrik renungan Sinar M.U edisi 50
______________________________

Dalam 24 jam sehari, terdapat waktu yang istimewa yaitu, sepertiga malam terakhir. Setiap tujuh hari seminggu, terdapat hari yang istimewa, yaitu hari Jumat. Dan di antara 12 bulan setahun, terdapat bulan yang paling diistimewakan yaitu bulan suci Ramadhan. Bagaimana Allah Swt. menjadikan Ramadhan begitu mulia dapat kita simak ketika Salman al-Farisi ra. berkata:
“Rasulullah Saw. berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah Swt. menjadikan puasanya wajib dan bangun malamnya sunnah, siapa yang mendekatkan dirinya dengan kebaikan maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain, barang siapa yang melaksanakan kewajiban maka seperti melaksanakan 70 kebaikan di bulan yang lain.”
Ramadhan adalah bulan ketika seluruh rahmat Allah Swt. dicurahkan kepada hamba-Nya, hingga sifat-Nya sebagai Maha Pemurah pun juga coba ia wariskan kepada manusia di bulan tersebut. Manusia memang tak akan pernah dan bahkan memang mustahil menjadi Tuhan. Tapi sebenarnya, manusia dari awal penciptaannya sudah ‘diciprati’ sifat-Nya dalam kadar terbatas. Karena itu ketika Imam Ghazali menulis tentang asmaul husna, beliau menambahkan catatan bagaimana cara manusia meniru setiap sifat-Nya. Tentu saja sekali lagi, tetap dalam koridor keterbatasan manusia.

Oleh sebab itu, kalau kita mau mengamati ritual tahunan kita di bulan Ramadhan, kita akan sadar, barangkali Allah ingin berbagi tentang sifat welas asih-nya di bulan ini untuk manusia, berbagi sifat ketuhanan yang luhur. Bahkan kalau kita jeli, tidak hanya ke-Maha Pemurahan-Nya yang ia ajarkan tetapi lebih dari itu.
Yang paling kita rasakan ketika berpuasa adalah menahan lapar dan dahaga. Awam yang kita ketahui adalah, bahwa kita diajarkan untuk saling berbagi rasa dengan orang-orang yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka. Momen seperti inilah yang ingin diajarkan oleh Allah kepada manusia.

Read more...

Geografis-Astronomis Awal Syawal 1430 Hijriyah

Ket: Laput Sinar M.U edisi 50.
_______________________
Membincang perbedaan Hari Raya, mungkin Indonesia menempati urutan pertama dalam daftar perbedaan ini. Akan tetapi kalau kita membuka data tentang hal itu, tentu akan didapati bahwa banyak negara lain yang frekuensi perbedaan hari rayanya jauh lebih banyak dibanding dengan negara Indonesia. Sebut saja Maroko, Turki, Iran, Bahrain, Tunisia, Aljazair, Bangladesh dan Libya yang juga pernah mengalami hal serupa tentang perbedaan penentuan hari raya.
Dalam kasus Hari Raya Idul Fitri tahun 1430 Hijriyah ini, fenomena perbedaan secara garis besarnya terbagi menjadi tiga; pertama, Mayoritas negara muslim di Balkan, Asia Tengah, Arab Teluk dan Asia Tenggara secara resmi kenegaraan menjalankan salat ied pada tanggal 20 September 2009 M. Kedua, beberapa negara yang menjalankan salat ied pada tanggal 21 September 2009 M diantarannya adalah negara Afrika Utara dan Maroko. Adapun Iran dan Bangladesh, disinyalir juga menentukan Idul Fitri pada hari yang sama. Ketiga, adalah Libya yang tercatat sering berbeda dengan mayoritas negara Islam lainnya yang melaksanakan Hari Raya pada tanggal 19 September 2009 M.

Perbedaan dalam menentukan awal bulan Hijriah, terutama di bulan Ramadhan dan Syawal (untuk kasus ini) dipastikan adalah karena adanya ragam perbedaan metodologi dalam penentuan awal bulan Hijriah. Di antara perbedaan tersebut ada yang mengatasnamakan ijtihad ilmiah, ada pula—yang secara radikal—hanya mengikuti gaya dan trend budaya setempat. Ada fenomena yang cukup mengembirakan di Indonesia pada tahun 2009 M ini, secara kebetulan pemerintah dan semua ormas yang memiliki otoritas dalam masalah tersebut menghasilkan keputusan yang sama dalam menentukan awal Syawal yang jatuh pada tanggal 20 September 2009 M. Namun begitu, seperti yang diberitakan beberapa media di Indonesia, ada sebagian kelompok seperti Tarekat Naqsabandiyah dan kelompok An-Nadzirdi Gowa, Sulawesi Selatan yang berbeda dalam menentukan Hari Raya 1430 H dengan melaksanakan shalat Ied sehari lebih awal dari mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu pada tanggal 19 september 2009 M.

Read more...

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP